, ,

Di tengah tren hidup sehat, budidaya daun mint di Bengkulu jajaki pasar herbal lokal

oleh -127 Dilihat

 Raup Keuntungan Segar dari Kebun Daun Mint: Kisah Sukses Nesa dari Bengkulu

Majalah Bengkulu– Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, ada kepuasan tersendiri dalam merawat tanaman hijau yang tidak hanya menyejukkan mata, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial. Salah satu tanaman yang sedang naik daun—secara harfiah dan metaforis—adalah daun mint. Dengan aromanya yang khas dan segar, serta manfaatnya yang multifungsi, daun mint telah menjadi primadona baru di kalangan pekebun dan pelaku usaha. Inilah kisah inspiratif Nesa, seorang wanita tangguh dari Bumi Ayu, Kota Bengkulu, yang berhasil mengubah rasa penasarannya menjadi usaha budidaya daun mint yang menguntungkan.

Mengenal Sang “Emas Hijau”: Daun Mint

Sebelum menyelami lebih dalam perjalanan bisnis Nesa, penting untuk memahami mengapa daun mint layak dijuluki sebagai “emas hijau”. Daun mint (genus Mentha) bukan sekadar tanaman penghias makanan (garnis). Ia adalah bahan serba guna dengan segudang manfaat:

  • Kuliner: Menjadi elemen kunci dalam hidangan Timur Tengah, minuman segar (seperti mojito dan teh mint), saus, salad, dan pencuci mulut.

  • Kesehatan: Dikenal dapat meredakan gangguan pencernaan, meredakan mual, dan memberikan sensasi lega pada saluran pernapasan. Kandungan mentolnya memberikan rasa dingin yang khas.

  • Kecantikan: Bahan dasar dalam produk perawatan mulut (pasta gigi, mouthwash), perawatan kulit, serta aromaterapi untuk relaksasi.

Di tengah tren hidup sehat, budidaya daun mint di Bengkulu jajaki pasar herbal lokal
Di tengah tren hidup sehat, budidaya daun mint di Bengkulu jajaki pasar herbal lokal

Baca Juga: Di Jantung Kota Bengkulu, Kepala Dinas Jadi Tersangka Kasus Jual Aset Pasar

Potensi pasar yang luas inilah yang menjadi fondasi kuat bagi bisnis budidaya tanaman herbal ini.

Dari Rasa Penasaran Menjadi Ladang Usaha

Perjalanan Nesa dimulai pada tahun 2019. Saat itu, tanaman mint belum menjadi hal yang umum dibudidayakan di Bengkulu. Rasa penasarannya tumbuh saat melihat keindahan daun mint dan potensinya sebagai garnis.

“Awalnya saya penasaran, kok daunnya cantik dan bisa jadi garnis. Setelah saya cari tahu, ternyata daun mint juga menjadi bahan utama pembuatan pasta gigi,” ujar Nesa, seperti dikutip pada 22 Oktober 2025.

Pengetahuan inilah yang menjadi pemicunya. Ia melihat celah pasar dan peluang untuk memperkenalkan serta memasok daun mint segar kepada masyarakat Bengkulu dan sekitarnya.

Teknik Budidaya: Belajar dari Kegagalan

Setiap usaha pasti memiliki tantangan, dan Nesa mengalaminya langsung pada fase pembibitan. Awalnya, ia mencoba menanam mint dari biji. Namun, upaya ini gagal karena ukuran biji mint yang sangat kecil dan sulit untuk ditumbuhkan.

Beliau tidak menyerah. Nesa kemudian beralih ke metode stek batang, yang terbukti lebih efektif dan mudah. Berikut langkah-langkah yang dilakukannya:

  1. Pemilihan Indukan: Memilih batang mint yang sehat, kuat, dan tidak terlalu tua.

  2. Proses Stek di Air: Batang yang telah dipotong ditempatkan dalam media air bersih. Akar-akar kecil akan mulai tumbuh dalam beberapa hari.

  3. Pemindahan ke Tanah: Setelah akarnya cukup kuat, bibit mint dipindahkan ke dalam polybag atau bedengan tanah yang gembur dan kaya nutrisi.

Dengan perawatan yang tepat, tanaman mint dapat dipanen untuk pertama kalinya dalam waktu sekitar satu setengah bulan. Kecepatan tumbuh ini merupakan salah satu keunggulan yang membuat bisnis ini terasa menguntungkan.

Shoppe Mall

No More Posts Available.

No more pages to load.