, ,

Kabut Gulita Pendapatan: Hujan Ganggu Mata Pencaharian Penyadap Karet di Kaur

oleh -174 Dilihat

Hujan Mengguyur, Rezeki Petani Karet Menipis: Ketika Cuaca Menjadi Penentu Nasib

Majalah Bengkulu– Kabut pagi masih menyelimuti perbukitan Kelam Tengah, Kabupaten Kaur. Biasanya, di waktu-waktu seperti ini, Yasrun dan para petani penyadap karet lainnya sudah berada di kebun, sibuk menggoreskan pisau sadap pada batang-batang karet yang berjajar. Namun, sejak sepekan terakhir, suasana itu berubah. Kebun karet yang biasanya ramai dengan aktivitas, kini sepi. Penyebabnya adalah cuaca penghujan yang tak henti-hentinya mengguyur wilayah itu.

“Kalau cuaca hujan, aktivitas penyadap getah ‘gak bisa terganggu, getah itu kan cair saat baru disadap. Jadi kalau kena air dia akan encer larut dirinya,” tutur Yasrun, suaranya lirih menahan kekhawatiran, saat ditemui di sela-sela ketidakpastian cuaca pada Jumat, 21 Oktober 2025.

Keluh kesahnya bukan tanpa alasan. Curah hujan intensif yang terjadi hampir setiap hari dalam sepekan terakhir telah menghentikan denyut nadi kehidupan para penyadap getah. Bagi mereka, hujan bukan sekadar tetesan air dari langit, melainkan sebuah “pemberhentian paksa” yang langsung berdampak pada pundi-pundi penghasilan.

Dilema Getah dan Air Hujan

Proses penyadapan getah karet adalah sebuah perlombaan dengan waktu dan elemen alam. Getah yang keluar dari hasil sadapan (lateks) memiliki sifat yang sangat rentan terhadap air. Ada dua skenario buruk yang selalu menghantui para petani ketika musim hujan tiba.

Pertama, jika hujan turun sesaat setelah batang karet selesai disadap. Getah segar yang baru saja menetes ke dalam mangkuk sadap akan dengan mudah tercairkan dan larut oleh siraman air hujan. Hasil sadapan yang seharusnya mengental dan siap dipanen, berubah menjadi encer dan nyaris tidak bernilai. Usaha sepanjang pagi pun bisa hilang dalam sekejap.

RRI.co.id - Cuaca Penghujan Sebabkan Aktivitas Petani Penyadap Getah Terganggu

Baca Juga: Dalam Upaya Perkuat Pertahanan, Bengkulu Bersiap Miliki Kodam Merah Putih

Kedua, dan ini yang paling parah, adalah ketika hujan turun sejak pagi buta. Pada kondisi ini, aktivitas menyadap sama sekali tidak bisa dilakukan. Menggores batang karet yang basah bukan hanya tidak menghasilkan getah, tetapi juga dapat merusak kulit pohon dan membuka peluang penyakit. Yasrun memilih untuk menghentikan total aktivitasnya pada hari-hari seperti ini. “Kami terpaksa istirahat, menunggu hingga kondisi cuaca memungkinkan untuk menyadap kembali,” ujarnya.

Dampaknya langsung terasa: penghasilan mandek. Penyadap karet, yang umumnya menggantungkan hidup pada hasil harian, langsung merasakan tekanan ekonomi. Tidak ada aktivitas menyadap berarti tidak ada pemasukan. Biaya untuk kebutuhan sehari-hari keluarga pun menjadi beban yang semakin berat.

Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Namun, petani seperti Yasrun bukanlah pihak yang mudah menyerah. Mereka mengembangkan siasat untuk meminimalisir kerugian. Strategi ini sangat bergantung pada “mood” cuaca di pagi hari.

“Kalau cuaca pagi cerah namun hujan menjelang siang, kami punya cara,” jelas Yasrun. Strateginya adalah dengan menggunakan obat pengental getah. Obat ini dicampurkan ke dalam mangkuk sadap setelah getah mulai mengalir. Fungsinya adalah untuk mempercepat proses pengentalan getah. Dengan begitu, jika hujan tiba-tiba turun di siang hari, getah sudah dalam kondisi lebih kental dan tidak mudah larut tersapu air.

Namun, siasat ini punya keterbatasan. Obat pengental tidaklah murah, sehingga penggunaannya harus diperhitungkan secara ekonomis. Selain itu, cara ini hanya efektif jika hujan datang setelah proses penyadapan dimulai. Jika hujan turun sejak dini hari, strategi ini tidak dapat diterapkan.

Shoppe Mall

No More Posts Available.

No more pages to load.