OPINI: Menghitung Sederhana, Dampak Ekonomi Pembangunan Tol Bengkulu-Lubuklinggau
Majalah Bengkulu– Perjalanan dari Kota Bengkulu menuju Lubuklinggau adalah sebuah petualangan yang menguji kesabaran. Melewati jalan berkelok, menanjak, dan turun, dengan waktu tempuh yang bisa mencapai 7-8 jam. Bukan hal aneh jika pengendara harus dua kali berhenti untuk sekadar meregangkan badan atau mengisi perut. Bayangkan energi, waktu, dan biaya yang terkuras dalam setiap perjalanan itu.
Kini, bayangan itu perlahan akan menjadi kenangan. Kehadiran Tol Bengkulu–Lubuklinggau tidak sekadar memotong peta, tetapi terutama memotong rantai inefisiensi yang selama ini membelit perekonomian. Ini bukan sekadar proyek beton dan aspal, melainkan sebuah “arteri ekonomi” baru yang akan menyuntikkan adrenalin pada denyut nadi ekonomi Bengkulu. Mari kita hitung secara sederhana, seberapa besar dampak ekonomi yang bisa dipetik dari proyek strategis ini.
Ekonomi Bengkulu Sebelum Tol: Berjalan, Belum Berlari
Mari kita lihat kondisi terkini. Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkulu mencatat PDRB atas dasar harga berlaku pada Triwulan III 2024 mencapai Rp 25,82 triliun, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,62 persen. Angka ini menggambarkan sebuah ekonomi yang tetap bergerak, namun belum menunjukkan akselerasi yang berarti. Roda ekonomi berputar, tapi belum “ngebut”.

Baca Juga: Tonggak Penting Pencegahan Korupsi: Kejari Bengkulu Ingatkan Seluruh Lurah Soal Akuntabilitas Dana
Dari sisi fiskal, APBD Provinsi Bengkulu tahun 2025 diproyeksikan sebesar Rp 2,92 triliun. Yang perlu dicermati adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang diperkirakan sekitar Rp 989,9 miliar—mengalami sedikit penurunan dari tahun sebelumnya (sumber: DJPK Kemenkeu). Sumber PAD ini, seperti pajak kendaraan, retribusi, dan dividen BUMD, ibarat darah segar bagi pembangunan daerah. Selama ini, potensinya terhambat oleh arus barang dan jasa yang belum optimal.
Tol Sebagai Katalis: Lebih dari Sekadar Penghemat Waktu
Di sinilah peran tol menjadi krusial. Berdasarkan model ekonomi infrastruktur dari Bappenas dan BPS, kehadiran jalan tol biasanya menurunkan biaya logistik signifikan, sekitar 15–25 persen. Waktu tempuh Bengkulu-Lubuklinggau diproyeksikan menyusut drastis, dari 7-8 jam menjadi hanya 3-4 jam. Efisiensi waktu dan biaya inilah yang menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi.
Mari kita berhitung dengan skenario moderat. Jika PDRB Bengkulu 2024 kita jadikan patokan (Rp 25,82 triliun), dan kita asumsikan tol memicu pertumbuhan tambahan sebesar 1,5 persen—angka yang konservatif dalam studi dampak infrastruktur—maka terjadi penambahan nilai ekonomi sebesar Rp 387,3 miliar. PDRB Bengkulu akan melompat dari Rp 25,82 triliun menjadi sekitar Rp 26,21 triliun.





![FOTO_DKI21[1] Pelantikan 11 Pejabat](https://smartraff.com/wp-content/uploads/2025/12/FOTO_DKI211-148x111.jpg)